Tanggal 9 Mei yang Bersejarah, Nantikan Pilpres??

Pada tanggal 9 April 2009, seluruh rakyat Indonesia melakukan pemilihan umum untuk menentukan calon-calon legislatif yang akan memperjuangkan aspirasinya. Saya berencana untuk memajang foto anggota legislatif pilihan saya di kamar(DPD, DPR, DPRD), bila mereka telah menjadi legislator. Hal tersebut sebagai ungkapan kebanggaan pribadi, dimana mereka akan memperjuangkan hak-hak saya nantinya. Terutama mangenai pendidikan, dukungan terhadap ekonomi kerakyatan.Insyaallah. walaupun, saya belum pernah bertemu dengan mereka semua.

Setelah menyontreng, saya sedikit iseng untuk mencari tahu kondisi pusat ekonomi di Serang, jalan-jalan bersama my father  menuju Pasar Lama, Royal, Pasar Rau saat pelaksanaan pemilu. Ternyata kondisi jalan sangat lenggang. Bila hari biasa, jalanan ini cukup padat dan macet. Hal ini dapat menujukan beberapa hal, pertama antusias masyarakat kota Serang yang tinggi mengikuti pemilu 2009, kedua, masyarakat sedang berlibur, ketiga, berdiam diri di rumah. Saya menduga, kondisi jalan sepi karena masyarakat antusias mengikuti pemilu. Asumsinya,  mulai dari angkutan kota, beca, ojeg, motor, jarang ada yang terlihat , TPS di wilayah tersebut cukup ramai dikunjungi oleh calon pemilih. Hal-hal tersebut dapat menjadi indikasi kemauan masyarakat memilih. Mobil  saya pun lancar meluncurnya, tidak seperti hari biasa, pasti berjalan merayap.

Cukup bangga dengan kondisi seperti ini, ternyata berdasarkan keterangan dari Lembaga Survei Indonesia ( LSI) keikutsertaan rakyat memilih di atas 50%.

Rute selanjutnya menuju kantor Kelurahan Trondol, untuk mencari tahu pelaksanaan pemilu di wilayah itu. Kelurahan Trondol memiliki 10 TPS dengan jumlah pemilih sebanyak 4.261. Berdasarkan keterangan kepala desa setempat antusias masyarakatnya cukup tinggi. Ternyata tingkat surat suara yang tidak sah cukup tinggi, hal ini terjadi karena beberapa hal, berdasarkan keterangan dari Lurah Terondol, Kendala sosialisasi kepada masyarakat. Pelatihan pencontrengangan yang tidak optimal dilakukan oleh pihak KPUD, untuk memberikan pelatihan pencontrengan diperlukan dana pelatihan,

tapi tidak ada intensife dana pelatihan  akibatnya tidak ada kegiatan pelatihan. Kendala lain adalah, singkatnya masa pengenalan caleg kepada masyarakat pemilih, akibatnya menimbulkan sikap acuh masyarakat terhadap pemilu. Istilah tak kenal maka tak menyontreng berlaku di pemilu.

Kenikmatan melaksanakan hak pilih kita merupakan hal yang luar biasa. Kita semua terlibat dalam penentuan masa depan bangsa ini. Kenapa kita harus memilih, pulang ke Serang dengan penuh  semangat selain bertemu keluarga juga untuk memilih dan bagian dari penentu bangsa Indonesia. Alasannya simple kita mesti memilih, pertama, siapa yang menentukan policy bangsa kita, jawabannya adalah legislator (mereka semua dipilih oleh kita), apakah policy itu memiliki pengaruh pada kita, ya sangat berpengaruh pada kita. Pangaruh negatif ataukah positif, tergantung kepentingan yang diperjuangkan oleh legislator tersebut, inilah kenapa kita mesti selektif memilih caleg. Saya bangga bukan menjadi seoarng GOLPUT, kamu?????

Saya dapat memahami teman-teman yang memilih golput, terkait dengan administrasi, terutama bila ingin nyontreng di daerah orang. Administrasinya cukup ribet, bila pulang kampung, sangat mahal opportuny costnya. Jadi lebih baik golput, daripada ribet dan juga mesti keluar uang untuk pulang kampung.

Menyontreng 5 menit berpengaruh selama 5 tahun.

Nah, saat ini KPU telah menerapkan DPS (Daerah Pemilih Sementara) kelebihan sistem ini adalah teman-teman tidak perlu mengurus surat pindah karena hanya tinggal daftarkan diri di TPS setempat dan sudah bisa menyontreng untuk Pemilihan Presiden.

Sudahkah Anda terdaftar di TPS??????

MENGUNAKAN KAPASITAS KITA YANG LUAR BIASA

Lihat matamu, mereka begitu kecil tapi dapat melihat hal-hal yang luar biasa

Jikalau kita tidak percaya dengan diri sendiri, apalagi orang lain. Jika kita berfikir kecil maka kita akan tetap kecil. Rasa percaya diri adalah nilai yang luar biasa besarnya. Kita semua memiliki bakat terpendam, namun bila kita tidak percaya bakat itu, bakat itu tidak akan terwujud dalam hidup kita. Apa yang difikirkan oleh benak, maka itulah yang diwujudkan oleh benak. Kalau kita pergi kelaut membawa satu ember, maka kita hanya bisa mengambil satu ember. Kalau kita pergi kelaut, dengan membawa seratus ember maka laut akan member kita satu ember. Ulat sutera yang kecil memproduksi serat-serat sutera yang indah. Lebah madu member madu yang manis. Biji kecil menjadi pohon buah yang ranum dan lezat. Kita juga diberkahi dengan bakat terpendam. Kebanyakan kita tidak menggunakan sepenuhnya kemampuan potensi kita. Kita semua masih bisa berbuat banyak. Banyak pakar yang berpendapat kalau kita hanya menggunakan tidak sampai sepuluh persen dari potensi kita. Bisa kita bayangkan keuntungan yang bisa diraih oleh sebuah korporasi jika persentase ini dinaikan menjadi dua puluh persen? Bisa dibayangkan keuntungan yang bisa kita raih sebagai anggota tim bila kerja kita dua kali lebih efektif. Kita semua bak katak dalam tempurung, batasan maya kita sendiri yang ciptakan. Kita hanya berfikir mengenai sebuah kolam kecil dan kita berusaha memanfaatkan kolam kecil ini sebaik-baiknya. Mengapa kalau kita punya cara mencapai laut kita hanya mengambil air dari kolam kecik ini?apa yang menghambat semua potensi kita keluarkan. Tidak ada yang ditakuti dari daerah yang masih perawan. Seperti yang dikatakan oleh Antonio Machalo, “ para pengelana, jalanmu adalah yang kau buat ketika berjalan”

Karena Tak Semua Angsa Putih Bulunya.

John stuart Mill, ahli ekonomi klasik dan filsuf menyebut: observasi terhadap angsa-angsa putih betapa pun besar jumlahnya tidak akan sampai kepada teori umum bahwa semua angsa berwarna putih. “Tetapi cukuplah satu observasi terhadap seekor angsa hitam untuk menyangkal teori tersebut”. Ketika penjelajah Belanda Willen de Vlamingh menemukan angsa-angsa hitam di pesisir barat Australia pada 1697, berita itu menggegerkan Eropa. Sebelum penemuan tersebut, angsa selaluu dianggap putih warnany. Seiring waktu, beda dengan saudaranya yang kerap dianalogikan dengan kecantikan dan keanggunan, angsa hitam dianalogikan untuk sesuatu yang penuh dengan ketidakpastian, yang tak terduga sebelumnya. Kejadian Black Swan, oleh penulis dan mantan pialang Nassim Nicholas Taleb, diterjemahkan sebagai the unknowns unknowns, sesuatu yang tidak ketahui sampai hal itu terjadi.

Tragedy 11 September 2001 yang meruntuhkan menara kembar WTC di Amerika Serikat dan menelan banyakk korban, adalah salah satu black swan itu. Setelah itu, gendering perang melawan teroris ditabuh dengan berbagai aneka bumbu, dari sentiment agama hingga asal Negara. Sebelum 11 September, tak ada yagn menyebut terorislah yang menyerang New York, Washington, atau London. Padahal, melihat sejarah, aksi peledakan di kota-kota itu bukan hal baru. Gedung WTC pernah diserang sebellumnya tahun 1993. London, sudah berapa sering kota ini digangu olah aksi terror geriliyawan Iralndia? Niall Ferguson, sejarawan, menyebut Tragedi Virginia Tech tahun lalu, saat Cho Seung-Hui dengan segala senjatanya menghabisi rekan-rekan dan dosennya, menewaskan sekitar 30 orang, sebagai black swan. Tak ada penjelasan logis hingga hal itu benar-benar terjadi.

Tapi pengistilahan Black Swan tak hanya untuk hal-hal yang tak terduga sebelumnya yang serba kelabu. Fenomena internet, penemuan penisilin, kemenangan Obama, adalah salah satu Black Swan. Pada era 1960-an, siapa orang di AS yang menyangka seorang kulit hitam bisa menjadi presiden? Namun di mata Taleb, black swan bukan peristiwa kebetulan belaka. Black swan menurutnya selalu memiliki tiga karekteristik utama; tidak dapat diramalkan, memberikan dampak yang massif, dan sesudah terjadi, mendorong kita membuat penjelasan bahwa kejadian bukan sebuah kebetulan, dan lebih bisa diramalkan, daripada sesungguhnya. Sekses Google yang memesona, menurut dia, adalah sebuah balck swan. Begitu juga revolusi Kuba dan Iran. Black Swan mendasari hamper segala sesuatu yang terkait dengan dunia kita, dari kebangkitan agama-agama hingga peristiwa-peristiwa dalam kehidupan pribadi kita masing-masing. Black swan, kejadian langka positif selalu baik untuk diharapkan, tetapi kejadian langka besar yang negative harus selalu disikapi supaya kita siap bila terjadi. Taleb membawa kita untuk tidak saja melihat pada hal yang tepat dan jalur yang direncanakan, tapi juga biasakan untuk memantau tren dengan presepektif pandangan yang lebih lebar. Singkat kata, selalu perhatikan akan adanya kesempatan, tankap dan manfaatkan. Jadi, jangan terlalu merasa bersalah jika sedikit saja bergeser dari perencanaan masa depan karena masa depan sangatlah tidak pasti dan perencanaan setepat apapun akan sangat mungkin memiliki kesalahan prediksi yang besar.

Sedikit keluar dari pakem, atau sejenak tidak mengikuti pola yang sudah ditetapkan, sah-sah saja. Karena sadar atau tidak, kesuksesan dan kegagalan juga sering dipengaruhi hal-hal yang randomness. Dalam kehidupan pribadi atau bisnis.

Diangkat dari buku The Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb.