Karena Tak Semua Angsa Putih Bulunya.

John stuart Mill, ahli ekonomi klasik dan filsuf menyebut: observasi terhadap angsa-angsa putih betapa pun besar jumlahnya tidak akan sampai kepada teori umum bahwa semua angsa berwarna putih. “Tetapi cukuplah satu observasi terhadap seekor angsa hitam untuk menyangkal teori tersebut”. Ketika penjelajah Belanda Willen de Vlamingh menemukan angsa-angsa hitam di pesisir barat Australia pada 1697, berita itu menggegerkan Eropa. Sebelum penemuan tersebut, angsa selaluu dianggap putih warnany. Seiring waktu, beda dengan saudaranya yang kerap dianalogikan dengan kecantikan dan keanggunan, angsa hitam dianalogikan untuk sesuatu yang penuh dengan ketidakpastian, yang tak terduga sebelumnya. Kejadian Black Swan, oleh penulis dan mantan pialang Nassim Nicholas Taleb, diterjemahkan sebagai the unknowns unknowns, sesuatu yang tidak ketahui sampai hal itu terjadi.

Tragedy 11 September 2001 yang meruntuhkan menara kembar WTC di Amerika Serikat dan menelan banyakk korban, adalah salah satu black swan itu. Setelah itu, gendering perang melawan teroris ditabuh dengan berbagai aneka bumbu, dari sentiment agama hingga asal Negara. Sebelum 11 September, tak ada yagn menyebut terorislah yang menyerang New York, Washington, atau London. Padahal, melihat sejarah, aksi peledakan di kota-kota itu bukan hal baru. Gedung WTC pernah diserang sebellumnya tahun 1993. London, sudah berapa sering kota ini digangu olah aksi terror geriliyawan Iralndia? Niall Ferguson, sejarawan, menyebut Tragedi Virginia Tech tahun lalu, saat Cho Seung-Hui dengan segala senjatanya menghabisi rekan-rekan dan dosennya, menewaskan sekitar 30 orang, sebagai black swan. Tak ada penjelasan logis hingga hal itu benar-benar terjadi.

Tapi pengistilahan Black Swan tak hanya untuk hal-hal yang tak terduga sebelumnya yang serba kelabu. Fenomena internet, penemuan penisilin, kemenangan Obama, adalah salah satu Black Swan. Pada era 1960-an, siapa orang di AS yang menyangka seorang kulit hitam bisa menjadi presiden? Namun di mata Taleb, black swan bukan peristiwa kebetulan belaka. Black swan menurutnya selalu memiliki tiga karekteristik utama; tidak dapat diramalkan, memberikan dampak yang massif, dan sesudah terjadi, mendorong kita membuat penjelasan bahwa kejadian bukan sebuah kebetulan, dan lebih bisa diramalkan, daripada sesungguhnya. Sekses Google yang memesona, menurut dia, adalah sebuah balck swan. Begitu juga revolusi Kuba dan Iran. Black Swan mendasari hamper segala sesuatu yang terkait dengan dunia kita, dari kebangkitan agama-agama hingga peristiwa-peristiwa dalam kehidupan pribadi kita masing-masing. Black swan, kejadian langka positif selalu baik untuk diharapkan, tetapi kejadian langka besar yang negative harus selalu disikapi supaya kita siap bila terjadi. Taleb membawa kita untuk tidak saja melihat pada hal yang tepat dan jalur yang direncanakan, tapi juga biasakan untuk memantau tren dengan presepektif pandangan yang lebih lebar. Singkat kata, selalu perhatikan akan adanya kesempatan, tankap dan manfaatkan. Jadi, jangan terlalu merasa bersalah jika sedikit saja bergeser dari perencanaan masa depan karena masa depan sangatlah tidak pasti dan perencanaan setepat apapun akan sangat mungkin memiliki kesalahan prediksi yang besar.

Sedikit keluar dari pakem, atau sejenak tidak mengikuti pola yang sudah ditetapkan, sah-sah saja. Karena sadar atau tidak, kesuksesan dan kegagalan juga sering dipengaruhi hal-hal yang randomness. Dalam kehidupan pribadi atau bisnis.

Diangkat dari buku The Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb.

One Response

  1. that’s right…terkadang ada hal yang tidak terduga dan cendrung terlupakan, di sisi lain ada hal yang begitu digaungkan, jadi alangkah bijaknya jika kita melihat sesuatu secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang…

Leave a Reply